Latest Entries »

mulut

saat kendali terhadap mulut terlepas
saat itu juga semua kejahatan dan dosa akan terukir
segala bentuk ucapan yang tak baik, akan keluar sehingga menimbulkan suara yang tak enak didegar telinga…
setiap kali setelah berucap… hanya dosa dan penyesalan yang menyelimuti perasaan…
ampuni aku…
yang telah lepas kendali…
ampuni aku yang terlalu menikmati ucapan buruk keluar dari sepasang bibirku
ampuni aku… yang membuat siapa saja menjadi buruk akibat ulah mulutku….
diam… aku merindukanmu
hanya diam yang sanggup membendung kejahatan mulutku yang kejam

Pelajaran hari ini

Aku melihat, aku mendengar, aku membaca, lalu aku menyimpulkan
Ingat saat –saat orang tua selalu memberi nasehat
Mereka bercerita dan memberikan pandangan
Terkadang aku tak mau mendengar bahkan tak menghiraukan

Tapi saat aku semakin mengalami hal yang pernah mereka alami
Aku jadi sadar, bahwa mereka mengucapkan hal yang sebenarnya
Apa yang mereka sampaikan adalah yang terbaik untuk kita anaknya
Karena mereka telah mengalami dan merasakan apa yang telah mereka lewati
dan itu sedang kita jalani

Aku lalu mengangguk dalam renungan
Suatu kesalahan besar saat aku meremehkan ucapan mereka
karena sikap sok tau atau sok pandai membuat hatiku jadi keras
apa salahnya mendengar dan belajar dari mereka yang telah melewati masa seperti yang sedang ku jalani

egoisme yang tak terkendali
akan menjerumuskan ke dalam kegelapan
padahal mereka memberi terang
agar kita dapat melihat dengan jelas arah yang kita tuju

dian 12052011

Hujan

Angin berhembus menerpa kulit wajahku
Dingin merasuk kedalam tulang menyelimuti tubuhku
awan abu-abu menyelimuti siang menjelang sore
Kilatan cahaya putih silih berganti seakan membelah bumi

Ku tatap pohon-pohon berdansa mengibaskan daunnya dengan keras
Beberapa lembar berguguran melayang jauh tak kuasa melawan angin
Kabut mulai berlari kearahku,
suasana lembabpun mulai terasa
Jutaan tetesan air mulai menderu membasahi setiap yang dilewatinya
Basahlah dunia ini,
atap rumah yang berjejer dan daun yang berdebu mulai bersih
Warna tak lagi pudar, cerahkan penglihatan yang memandangnya
Hijau, coklat, kuning, hitam semua tampak jelas tertangkap mata

Ku hirup udara dalam-dalam…
Biarkan suasana basah dan bau tanah yang selalu merindukan
Menyelimuti jiwaku yang gersang
Menimbulkan perasaan damai dalam hati sekaligus haru

Jika ku tak pernah merasakan sempitnya udara karena debu dan polusi
Aku pasti tak akan bisa mensyukuri suasana setelah hujan yang menakutkan
Itu sebabnya tak ada alasan untuk membenci apalagi merusak
Slalu ada cara memendang untuk bersyukur
Lihat dari sisi yang paling baik
Maka semua akan terlihat sangat baik

Love my life verry much
24042011

Untuk mengulas berfikir logic pada anak pra sekolah, maka ulasan ini akan memulai dengan bertolak pada definisi berfikir logic terlebih dahulu, yaitu menurut cabang filsafat, Logika berperan mengatur/membimbing akal budi manusia agar menjalankan proses berpikir/refleksi secara tepat, lurus, benar, logis dalam mencapai kebenaran. Dimana salah satu manfaat dari berfikir logis ialah untuk membantu orang berpikir lurus, tepat, teratur, rasional, kritis, tertib, metodis, koheren.
Logika membicarakan kegiatan pemikiran secara lengkap beserta prosesnya menuju arah kebenaran, membicarakan susunan konsep dan segala sesuatu yang menyangkut berbagai seluk-beluk kegiatan pemikiran.
Dalam buku the creative curriculum for preschool di tuliskan bahwa tugas perkembangan kogntif pada anak di dimensi berfikir logic adalah mengumpulkan dan membuat informasi yang masuk akal dengan menggabungkan, membedakan, memilah, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, dan mengenal pola. Anak menggunakan pemikiran logic untuk mengorganisasi dunia mereka secara konseptual dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana itu bekerja.
Dalam psikologi, terdapat beberapa ahli yang mengulas tentang perkembangan berfikir logis pada manusia dan disini hanya akan difokuskan perkembangan berfikir logis pada anak usia pra sekolah.

1. Piaget

Menurut piaget (dalam santrock, 2007), anak yang berada pada periode sensorimotor memperoleh pengetahuan tentang dunia dari tindakan-tindakan fisik yang mereka lakukan. Seorang bayi berkembangan dari tindakan reflektif, instingtif pada saat kelahiran hingga akhir periode ini. Sedangkan pada tahap pra operasional, yaitu dengan rentang usia 2-7 tahun sudah mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya. Walaupun terdapat beberapa hambatan dalam pemikiran pada anak di tahap ini, seperti egosentrisme dan sentralisasi, namun kemampuan objek permanen dan konsep sebab akibat telah berkembang di akhir periode ini.
Jika pada tahap sensorimotor anak hanya memiliki pola perilaku reflek, pada tahap pra operasional anak telah mulai membentuk konsep yang stabil, memunculkan pemikiran-pemikiran mental, menumbuhkan egosentrisme, serta terkonstruksi keyakinan-keyakinan magis.
Dalam perkembangannya, pada tahap ini terbagi menjadi dua sub tahap perkembangan yaitu, fungsi simbolik dan pemikiran intuitif. Pada sub tahap simbolik yang berada pada usia 2-4 tahun anak mulai memiliki kemampuan untuk menggambarkan secara mental sebuah objek yang tidak ada. Namun demikian pemikiran anak di tahap ini masih memiliki batasan-batasan seperti egosentrisme dan animisme.
Selanjutnya pada sub tahap ke dua ialah intuitif yang terjadi sekitar usia 4-7 tahun dimana anak selalu ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan yang ditandai dengan intensitas bertanya anak yang semakin sering. Kelemahan di tahap ini ialah anak sulit memahami kejadian yang disadarinya terjadi, tetapi tidak dilihatnya. Sebagai tanda periode intuitif anak mengetahui sesuatu dan memperoleh pengetahuan tanpa menggunakan pemikiran rasional mereka. Sebagai kelemahan kemampuan berfikir mereka di periode ini ialah sentralisasi dimana anak hanya memusatkan perhatian pada satu karakteristik dan mengabaikan karakteristik lainnya, yang dicontohkan dengan kurangnya kemampuan konservasi (papalia, 2008).
Anak pada usia ini tidak hanya menunjukkan kegagalan konservasi pada zat cair, namun juga pada angka, bahan-bahan, panjang, volume, dan area.
Pada tahap perkembangan piaget, kemampuan berfikir logic anak sangat erat kaitannya dengan koordinasi dan adaptasi yang di dalamnya terdapat skema, asimilasi, dan akomodasi, selain itu kemampuan dalam operasi, konservasi, klasifikasi, dan pemikiran hipotesis deduktif merupakan ukuran perkembangan berfikir logis pada anak. Dan tak luput pula pada proses equilibrasi sebagai proses yang dijalani anak dalam rangka mengembangkan nalarnya ke tingkat yang lebih tinggi.

2. Kritik dan Neo piaget

Menurut Gelman, prestasi anak pada pra sekolah dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan yang bersifat perhatian pada satu dimensi, seperti angka dan prestasi pada satu dimensi ini juga akan meningkatkan prestasi dimensi lain seperti volume. Gelman (dalam Slavin, 2008) meyakini bahwa konservasi muncul lebih awal dari yang dipikirkan oleh piaget asal diberikan dengan cara dan bahasa yang sederhana, dan ia menganggap perhatian merupakan suatu hal yang penting dalam menjelaskan konservasi.
Penelitian kemudian, yang salah satunya dilakukan oleh siegrler menemukan bahwa permenensi objek pada anak muncul lebih awal dari yang dikemukakan oleh piaget. Dimana permanensi objek ini penting untuk anak mengembangkan keberadaannya dan dunianya (slavin, 2008).
Selain itu penemuan terbaru juga mengatakan bahwa pada keadaan tertentu anak tidak memunculkan sifat egosentris, yaitu ketika ia menyadari orang lain tidak melihat apa yang ingin dilihatnya, maka ia akan mengamati apakah orang tersebut matanya tertutup atau sedang melihat kea rah lain, selain itu, konsep konservasi juga didapati terjadi lebih awal yaitu ditemui pada anak usia 3 tahun yang menurut piaget tidak akan terjadi pada anak sebelum berusia 7 tahun.
Penemuan baru mengungkapkan bahwa anak dengan tahap tertentu akan dapat dilatih untuk mempelajari kemampuan di tahap yang lebih tinggi sehingga perkembangannya dapat terjadi lebih cepat dan menurut piaget itu tidak mungkin dapat dilakukan kecuali anak telah mencapai titik transisi kedewasaan rasional pada tahapan-tahapan tersebut.
Sedangkan para pakar neo piagetian mengemukakan penggambaran yang lebih akurat mengenai pemikiran anak memerlukan perhatian pada strategi-strategi anak, kecepatan anak memproses informasi, keterlibatan tugas khusus, dan pembagian permasalahan kedalam langkah-langkah yang lebih kecil dan tepat.

3. Vygotsky

Lev vigotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka, namun fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi social. Anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sitematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong dan ahli terkait dengan ZPD nya, oleh sebab itu orang lain dan bahasa memegang peranan penting (salavin, 2008).
Menurut vigotsky (dalam santrock, 2007), bahwa anak kaya konsep namun tidak sistematis, acak, dan spontan, oleh sebab itu anak belajar dari pakar untuk menjadi lebih sistematis, logis, dan rasional yang disebut anak dalam ZPD. Dan untuk proses ini anak yang dalam ZPD memerlukan dialog untuk menghubungkannya dengan cara scafoflding.
Vygotsky yakin, anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahsa untuk kemandirian kemudian diberi nama private speech.
Menurut vigotsky, bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Ia menekankan bahwa semua fungsi mental memiliki sumber eksternal social dan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain, sebelum mereka dapat memfokuskan kedalam pikiran-pikiran mereka sendiri.
Selanjutnya anak usia 3 – 7 tahun akan mengembangkan kemampuan bicara eksternal menjadi internal dan meliputi berbicara pada dirinya sendiri hingga akhirnya mampu bertindak tanpa aktivitas verbal. Disini anak telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris mereka dalam bentuk inner speech yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka (santrock, 2007).
Ketika anak bicara pada diri sendiri, mereka menggunakan bahasa untuk menata dan membimbing perilaku mereka.
Bagi vygotsky, point akhir kemahiran anak dapat berbeda tergantung keahlian yang dianggap paling penting dalam budaya dan menurutnya anak menyusun pengetahuan melalui interaksi social. Disini peran bahasa sangat penting dalam menajamkan pemikiran.

4. Kritisi Vigotsky

Disini Barbara rogoff (dalam Santrock, 2007) mendukung teori vygotsky dimana ia berpendapat bahwa anak menjalani suatu pelatihan berfikir melalui partisipasi terarah dalam aktivitas social dan budaya. Partisipasi terarah dapat terjadi ketika orang dewasa dan anak berbagi aktivitas. Orang tua dipandang sebagai pengambil keputusan bagi anak dalam memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.
Anak juga belajar melalui observasi, dimana anak dapat mengadopsi nilai-nilai, keahlian, dan tata karma dengan melihat dan mendengarkan teman sebaya dan orang dewasa. Disini pembelajaran tidak hanya terjadi dengan belajar atau duduk di kelas, tetapi juga melalui interaksi dengan orang-orang berpengathuan.

Kesimpulan

Berfikir logic adalah mengumpulkan dan membuat informasi yang masuk akal dengan menggabungkan, membedakan, memilah, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, dan mengenal pola. Anak menggunakan pemikiran logic untuk mengorganisasi dunia mereka secara konseptual dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana itu bekerja.
Anak-anak pada usia pra sekolah menurut piaget masih belum memiliki pemikiran logic yang sempurna karena mereka terbatas dengan masalah seperti egosentrisme, sentralisasi, animisme, dan intuitif yang membuat mereka belum mampu melakukan konservasi secara penuh baik pada zat cair, maupun pada angka, bahan-bahan, panjang, volume, dan area. Namun di usia ini mereka mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya.
Namun, penelitian yang lebih baru mengatakan latihan dan budaya memiliki peran dalam perkembangan berfikir anak, dan metode yang digunakan untuk mengamati tingkah lau anak juga mempengaruhi hasil pengamatan seperti pemberian instruksi dengan cara dan kata yang sederhana membuat anak mampu melakukan apa yang menurut piaget belum mampu dilakukan anak, seperti konservasi, dan kepermanenan objek yang berfungsi untuk membatu anak memahami kejadian tetap terjadi walau mereka tidak melihatnya.
Sedangkan menurut vigotsky, bahwa bahasa berperan sangat penting dalam perkembangan berfikir anak, dimana Anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sitematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong dan ahli terkait dengan ZPD nya, oleh sebab itu kemampuan berbahasa sangat diperlukan.
Vygotsky yakin, anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahasa untuk kemandirian kemudian diberi nama private speech. Selanjutnya anak usia 3 – 7 tahun akan mengembangkan kemampuan bicara eksternal menjadi internal dan meliputi berbicara pada dirinya sendiri hingga akhirnya mampu bertindak tanpa aktivitas verbal. Disini anak telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris mereka dalam bentuk inner speech yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka.
Selain itu karakteristik berfikir anak pada usia 3 tahun, mereka memiliki kemampuan mengklasifikasi dan memahami dunia namun dengan tahap yang apaling sederhanya, bahkan mereka hanya mampu mengklasifikasikan berdasarkan satu karakteristik dalam satu waktu.
Pada usia 4 tahun, rasa ingin tahu anak untuk mulai berfikir sebab akibat membuat mereka jadi sering bertanya, bahkan mereka juga menggunakan imajinasi mereka untuk memahami sesuatu, walau terkadang imajinasi tersebut dapat memunculkan takut. Dan pada fase ini mereka masih belum terlalu dapat membedakan antara fantasi dan fakta.
Anak pada usia 5 tahun mulai mempelajari konsep-konsep baru melalui eksperimen dan observasi. Mereka mulai mampu memecahkan masalah dan melakukan prediksi melalui observasi segala sesuatu yang ada disekeliling mereka, dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya. Mereka mampu berfikir dengan cara yang lebih kompleks, seperti menghubungkan informasi baru dengan informasi yang telah mereka ketahui. Mereka juga telah mampu melakukan pengkategorisasian berdasatkan dua karakteristik sekaligus, seperti bentuk dan warna.

Daftar bacaan

Papalia, E,. Diane,. Dkk. 2008. Human Development (Psikologi perkembangan). Kencana: Jakarta
Slavin,. E,. Robert. 2008. Psikologi pedidikan teori dan praktek jilid I. Indeks: Jakarta
Santrock,. W,. John. 2007. Perkembangan Anak. Erlangga: Jakarta

Kebanggaan milik siapa??

Setiap orang berhak merasakan kebanggaan…
Ini bukan tentang bagaimana kita meraih sesuatu yang dianggap berharga bagi orang lain
Tapi tentang bagaimana kita dapat bahagia dan tertawa di atas kesulitan

Tetap tersenyum walau hidup ini terlalu sulit untuk dilalui
Tetap bercanda walau dunia terlalu gersang untuk ditanami
Tetap tertawa walau beban ini terlalu berat untuk dipikul

Tawa yang diguratkan oleh wajah lelah penuh keringat
Melapangkan hati yang terhimpit oleh kebutuhan hidup yang smakin sulit terpenuhi

Menangis juga tak akan merubah kenyataan
Menerima… pilihan satu-satunya yang harus dipilih
Agar selamat dari keterpurukan jiwa

Bahagia bukanlah hanya materi
Tapi teman untuk berbagi
Dan hadirnya orang yang ingin kita bahagiakan

Good luck for all…
Especially for them who work very hard for their life
N still smile

Ketika rasa malas menyelubungi seluruh jiwa
Membekukan gelora dan hapuskan sisa tenaga yang ada
Rasanya tubuh ini hanya bisa tergolek kaku
Memanjakan otak yang tak berfikir apa-apa
Sama saja aku hidup tapi mati

Meta berkedip, nafas berhembus, jantung berdetak
Namun ku hanya terduduk di peraduan yang nyaman
Tak melakukan apa-apa… diam dan tak berpengaruh pada dunia
Mungkin aku hanya sampah yang akan membusuk lalu lenyap

Beginikah hidup masa muda??
Sedangkan mereka yang renta,
memikul beban yang jauh lebih berat dari berat tubuhnya
aku terhenyuh… namun hanya menatap…
kulit keriput tak sedikitput menjadi keluh kesahnya
tulang yang goyah pun tak menyurtkan semangatnya untuk terus berjuang

terkadang ku lihat mereka berhenti sejenak,,
sekedar tuk kokohkan kembali langkahnya yang sempat terhuyung
berusaha menelusuri tangga dengan beberapa karung sayuran di pundak

wanita yang lain mengelap keringat sambil terus berjalan
merapikan dua lember seribuan yang baru saja didapatnya
ia rapikan dan kemudian dimasukkan ke kantong kumal
ribuan demi ribuan dengan keringat yang terus mengalir
tapi aku hanya termenung diam,,, melihat saja

dhe 19/3/11

Secara singkat guru yang baik adalah seorang individu yang peduli dengan siswa dan mendedikasikan waktu dan energinya untuk menjadi manajer yang handal di kelas, materi pelajaran, dan pelajaran di kelas.
Menurut Slavin (2009) yang menjadikan seorang guru disebut sebagai Guru yang Baik tidak hanya sekedar mengetahui tentang materi pelajaran tetapi juga harus mengetahui tentang ketrampilang mengajar. Guru yang Baik tidak hanya tahu materi yang seharusnya diajarkan tetapi juga dapat mengkomunikasikan pengetahuan mereka kepada para siswa. Yang terpenting adalah kemampuan menghubungkan konsep-konsep abstrak dengan pengalaman yang sudah dimiliki oleh para siswa.
Wolfgramm (Henson & Eller, 1999) mengatakan bahwa guru akan terus menghadapi tantangan dalam memotivasi siswa, mempertahankan disiplin, serta bekerja sama dengan orangtua, sesama guru, dan administrator. Hal-hal di atas sangatlah penting untuk dilakukan oleh guru dengan melibatkan atribut dan harapan yang unik terhadap para siswanya.
Selain itu, menurut Salvin (2009) terdapat juga kemampuan-kemampuan guru yang perlu diterapkan di seluruh level pendidikan, baik di dalam maupun di luar kelas, seperti memotivasi siswa, mengatur kelas, mengukur pengalaman terdahulu siswa, mengkomunikasikan ide-ide dengan efektif, memahami karakter-karakter peserta didik, mengukur hasil pembelajaran, dan meninjau kembali informasi yang diperoleh.
Burden & Byrd serta Kennedy (Slavin, 2009) menambahi bahwa Guru yang Baik perlu memiliki kemampuan untuk menampilkan tugas-tugas yang mempengaruhi instruksi yang efektif. Merujuk pada hasil penelitian Cornelius-White serta Eisner (Slavin, 2009) kehangatan, antusiasme, dan perhatian sangatlah penting. Sementara penelitian Wiggins & McTighe (Slavin, 2009) menunjukkan bahwa Guru yang baik perlu memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran dan cara belajar siswa. Meski demikian, menurut Shulman (Slavin, 2009) keberhasilan dari ketuntasan materi yang diajarkanlah yang menjadikan suatu pembelajaran menjadi efektif instruksional.
Di dalam proses mengajar, seorang guru perlu melakukan perencanaan dan persiapan, serta pengambilan keputusan setiap jamnya. Dengan demikian sebuah atribut yang melekat pada guru yang menonjol adalah: intentionality, yaitu melakukan sesuatu dengan alasan, atau bertujuan. Intentional teacher adalah guru yang secara terus menerus memikirkan hasil yang mereka inginkan dari siswanya dan bagaimana setiap keputusan yang mereka buat akan mengarahkan siswa menuju hasil yang diharapkan. Seringkali siswa belajar dalam keadaan yang tidak direncanakan. Namun untuk menantang para siswa, untuk memicu usaha terbaik yang dimiliki, untuk membantu siswa melakukan loncatan yang konseptual, serta untuk mengorganisasi serta mempertahankan pengetahuan baru, guru perlu untuk memiliki alasan (purposeful), penuh pemikiran (thoughtful), dan fleksibel, tanpa kehilangan arah dalam membimbing setiap siswanya.
Duane Obermier (Henson & Eller, 1999), seorang guru teladan dari Nebraska, berbagi pengalamannya mengenai pendapatnya tentang seorang guru yang “baik” adalah guru yang melakukan persiapan yang matang, selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan mengajar, menetapkan standar yang tinggi, fleksibel, jujur, fokus terhadap siswa dan kebutuhannya, bersikap sopan terhadap siswa, menerapkan peraturan secara umum, namun tetap membiarkan konsekuensi natural terjadi.
Telah banyak penemuan yang mengungkapkan bahwa salah satu prediktor yang kuat dari pengaruh guru terhadap siswa adalah keyakinan bahwa si guru melakukan perubahan. Menurut Henson serta Tschannen-Moran & Woolfolk Hoy (Slavin, 2009) keyakinan ini disebut sebagai teacher efficacy merupakan inti dari guru yang intentional atau bertujuan.
Shirley Rau (Henson & Eller, 1999) mengungkapkan bahwa keberhasilan sebagai seorang guru, konselor, atau pakar pendidikan lainnya tergantung dari kemampuan untuk memahami keadaan dan menerapkan inovasi serta ketrampilan untuk membuat kebutusan yang memecahkan atau mengurangi efek dari masalah yang ada.
Charles Sposato (Henson & Eller, 1999) seorang guru teladan dari Massachusetts, mengatakan bahwa dalam perjalanan kariernya sebagai seorang guru seringkali menanyakan kepada siswa mengenai kualitas seperti apakah yang diharapkan siswa dari guru mereka. Jawaban yang paling sering diberikan selalu hampir sama, yaitu penguasaan materi, keadilan, dan rasa gembira. Saat diminta untuk memberikan satu jawaban saja, respon yang diberikan umumnya adalah rasa humor (sense of humor).
Cukup sulit untuk menentukan atribut apa yang dimiliki oleh guru untuk dekat dengan para siswanya. Meski demikian fokus perhatian saat ini lebih kepada organisasi kelas, manajemen waktu, dan interaksi antara guru dengan murid. Aspek-aspek tersebut lebih mudah untuk dikuantifikasi dan diukur daripada aspek-aspek yang sifatnya sangat individual seperti kehangatan dan kepedulian.

bacaan:
Henson, K.T. & Eller, B.E. 1999. Educational Psychology for Effective Teaching. Belmont: Wadsworth Publishing Company.
Slavin, R.E. 2009. Educational Psychology: Theory and Practices. 9th edition. New Jersey: Pearson.

FATAMORGANA

Hidup adalah hamparan mimpi
Yang keberadannya semu serta kabur
Bagai bayangan dalam ombak yang tak dapat disentuh
namun keberadaannya dapat dilihat

rasa yang mengisi hati hanyalah fatamorgana
seakan ada namun tiada
tapi buaiannya menghanyutkan sukma
sanggup gerakkan raga tuk nyatakannya

air mata dan tawa hanyalah hiasan
wakilkan getaran bahagia dan luka yang terasa di dada
dan itu hanyalah ulah dari nilai ideal manusia
berupa harapan yang terlalu dijadikan patokan

fatamorgana kehidupan
nafsu dan hasrat akan slalu mengukir keinginan di hati
yang sanggup gelapkan logika dan nurani
hingga acuhkan sgala norma

The-and ‘11

Menurut Slavin (1991), mengajar adalah aktivitas interpersonal dan interaktif yang menggunakan komunikasi verbal. Tujuan mengajar adalah membantu siswa belajar atau mengubah perilaku. Mengajar juga merupakan bentuk hubungan antara guru dan siswa. Prosesnya dilakukan dengan sengaja dan bertujuan.
Dalam proses pembelajaran, tiga hal yang harus diperhatikan adalah siapa yang diajar/anak didik, apa materi yang diajarkan dan targetnya, serta bagaimana mengajarkannya. Dalam proses tersebut, guru berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dan perubahan dalam kehidupan siswa. Maka guru diharapkan tidak hanya menguasai bahan ajaran, namun juga cara menyampaikan bahan ajaran dan perlakuan terhadap siswa.
Dalam proses transfer bahan ajar (ilmu) tersebut, guru berperan sebagai pemimpin, penyampai bahan ajar yang efektif, pendiagnosa, a tactful diplomat (pandai membawa diri dan bijaksana), a firm but fair diciplinarian (memiliki kedisiplinan yang tegas dan adil), praktisi dan peneliti, pembuat keputusan, konselor, sekaligus manajer. Guru yang baik tidak sekadar menguasai bahan ajar, namun juga mampu menyampaikannya dengan jelas dan kreatif sehingga dapat memotivasi siswanya. Guru yang baik juga selalu mengevaluasi proses pembelajaran yang dilakukannya (Slavin, 1991).
Sebagai pembuat keputusan, guru harus secara kreatif membuat keputusan saat terjadi permalasahan yang menyangkut siswanya sehingga suasana belajar kembali nyaman. Sebagai konselor, guru memahami karakteristik masing-masing siswanya (emosi, psikis, dan sosial). Dengan demikian saat terjadi masalah pada siswa, guru dapat melihat masalah dengan lebih jelas, mengidentifikasinya, dan mencari kemungkinan pemecahannya. Sebagai manajer, guru harus mampu membuat tujuan dan struktur kelas yang baik untuk kelancaran proses pembelajaran. Guru juga mengatur lingkungan belajar, memberi tugas, dan mengatur lingkungan sosial siswa di sekolah. Sebagai peneliti dan praktisi, guru meneliti permasalahan yang ada di kelasnya. Hasil penelitian tersebut disampaikan kepada siswa dan diaplikasikan di kelas dengan mempertimbangkan dinamika siswa di kelas.
Menurut Henson (1999), mengajar dapat dilihat dari perspektif aksi (teaching as action), perspektif seni dan perspektif sains (teaching as art and science). Dari perspektif aksi, mengajar adalah kegiatan mengorganisir kelas, meliputi pelaksanaan kurikulum dan tujuan pendidikan, melibatkan siswa dalam merencanakan dan mengorganisir kelas. Mengajar adalah mengelola kelas dengan aturan yang jelas. Dari perspektif seni, mengajar adalah menyampaikan materi ajar yang disesuaikan dengan keunikan siswa, disertai humor, intonasi suara, dan kontak individual. Dari perspektif sains, mengajar mensyaratkan guru menguasai teori perilaku manusia, perkembangan anak (karakteristik siswa), dan proses belajar.
Guru yang efektif tahu apa yang akan diajarkan dan menguasai cara yang efektif untuk menyampaikan materi ajar kepada siswa. Jadi, selain memahami secara mendalam dan spesifik subjek/bahan ajar (biologi, fisika, matematika, bahasa, dan sebagainya), guru juga mengetahui secara spesifik cara-cara untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran di kelas. Selain itu, guru juga mempertimbangkan keunikan siswa, perbedaan umur, latar belakang, dan materi ajar yang sesuai. Guru memerankan peran utama di dalam kelas, tapi tetap melibatkan siswa dalam perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran. Guru menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran dan mengomunikasikannya kepada siswa. Sebagai besar kegiatan pembelajaran melibatkan seluruh siswa, baru kemudian dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil atau kegiatan individual. Guru menjaga tahap-tahap pembelajaran tetap di alurnya dan mewajibkan partisipasi aktif siswa. Selain itu, guru yang efektif juga memberi perhatian dan mengembangkan sikap kritis dalam menanggapi jawaban para siswa sehingga mereka mendapatkan pengetahuan yang lebih utuh. Saat memberi tugas kepada para siswa, guru menekankan perlunya siswa bertanggung jawab terhadap hasil kerja mereka. Sebelumnya, di awal tahun ajaran, guru telah menetapkan aturan-aturan berkaitan dengan proses akademik dan perilaku sosial siswa.

Henson, K.T. & Eller, B.F. (1999). Educational Psychology for Effective Teaching. Boston: Wadsworth Publishing Company.
Slavin, R.E. (1991). Educational Psychology: Theory into Practice. New Jersey: Prentice Hall.

CINTA YANG KEMBALLI MENGHAMPIRI

Hatiku kembali berdebar kencang….
Aku pernah mengenal perasaan ini
Dan aku tau apa ini

Tubuhku lemas bukan karena sakit di hati
Tapi karena riang yang tak terbendung tuk meluap kepermukaan

Inilah cinta
Begitu menggelora dan menggebu-gebu
Seakan sanggup ledakkan semua hasrat yang dulu membeku

Aku sangat bahagia,
setelah cinta dalam hati ini pernah terenggut
membuatku terpuruk bagai manusia tanpa ruh
menenggelamkanku dalam kehampaan logika dan rasa

kini kurasakan kembali
benih cinta ini tubuh semakin besar dalam relung hatiku
tak dapat ku sampaikan betapa besar hysteria yang ada dalam benakku
untuk mensyukuri kehadiran perasaan yang lama ku nantikan datangnya kembali

hati ini bergejolak riang,,,
tubuh ini kembali hangat
penuh dengan sejuta kasih yang takkan habis untuk dibagi

aku tau… ini cinta yang sama…
bahkan lebih besar dari yang dulu
yang pernah kurasakan hingga membuatku terbang

tapi kali ini berbeda…
karena cintaku tak berlabuh pada manusia
cinta kali ini akan kekal
karena cinta ini tumbuh padaMU
cinta ini tumbuh untukMU

hangat yang kurasakan kini
menyelimuti seluruh jiwaku
berikan semangat baru dalam hidupku
puaskan dahaga cinta yang slalu kudambakan

betapa aku tak sabar tuk ungkapkan padaMU
betapa besar cintaiku padaMU
merindukanMU disetiap hembusan nafasku
dan kini hanya KAUlah yang slalu berputar dalam benakku
dan memenuhi lubuk hatiku

memujaMU disetiap langkah hidupku
mengagumi setiap anugerahMU
dan mengakui kehebatan dan kuasaMU
semua menjadi obsesiku
kan kulakukan semua untukMU

kecintaanku kini
membuatku tak sabar tuk segera bertemu denganMU
wahai makhluk agung yang tak terbantahkan kekuasannya