Alkisah… Suatu masa ada seorang anak wanita, dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang sederhana, ia tumbuh menjadi wanita yang mandiri, ia tak terbiasa tergantung pada siapapun, hidupnya sederhana dengan segala sesuatu yang biasa saja.
Tapi ia punya semangat yang luar biasa, berjuang untuk banggakan orang tuanya. Dengan kegigihan dan usaha kerasnya akhirnya ia mendapat pekerjaan yang bagus dan mengangkat derajatnya. Tapi ia wanita yang belum sempurna jika belum menemukan belahan jiwa yang dapat masuk ke dalam hatinya.
Lalu mulailah ia mencari pecahan jiwanya yang masih tertinggal, ia sebut laki-laki itu pangeran jiwanya. Namun tak disangka ternyata mencari belahan jiwa lebih sulit dari menggapai apapun, lingkungan menganggap dia terlalu sempurna hingga tak ada satu laki-lakipun yang benar-benar merasa pantas untuknya. Hatinya sungguh terluka karena tak pernah terbesit sedikitpun di kepalanya bahwa ia mencari pangeran tampan dan kaya raya, dan ia tak merasa menjadi putrid hingga harus mengeksklusifkan diri.
Ia hanya ingin mencari seorang pangeran yang dapat dicintai dan mencintainya setulus hati, pangeran yang lebut dan juga baik hatinya. Setiap malam ia berdoa agar Yang Maha Kuasa mengirimkan pangeran yang bisa melengkapi hatinya yang hanya sebagian ini, ia mencari potongan yang cocok untuk menyempurnakan hatinya yang kosong.
Suatu hari, ia melihat pangeran itu… bersinar dan hatinya terpanggil, ia mengikuti suara itu dan pangeran ini sungguh sempurna baginya, tapi sayang… pangeran itu merasa ia bukan pangeran melainkan hanya budak hina yang tak pantas dengannya, hal itu menggores hatinya.
Tapi sang anak ingusan yang telah menjelma menjadi putri itu tak pantang menyerah, ia yakin bahwa laki-laki itu adalah pangeran hatinya, hati milik laki-laki itu adalah bagian dari hatinya yang terbelah, dan ia yakin hanya hati itu yang dapat mengisi kekosongannya selama ini.
Ia berusaha meyakinkan sang pangeran, tak pernah menyerah ia berjuang agar si pangeran juga merasakan bahwa hati milik mereka saling memanggil. Walau harus berderai air mata si putri tetap berjuang, tak ingin lepaskan kesempatan yang harus ia manfaatkan sebaik-baiknya.
Sang putri yang tak putus asa itu terus meyakinkan bahwa kedua hati ini akan bersatu pada masa yang tepat. Ia berjuang tanpa kenal lelah, karena baginya belahan jiwa yang lain bukan untuknya, hanya hati yang inilah miliknya. Sang pangeran yang memang merasakan keterikatan hati mereka terus saja tak berani mengakui, bahwa hatinya memang terpanggil.
Hingga pada suatu waktu… sampailah masa itu, dimana perjuangan sang putri tidaklah sia-sia, kekuatan dua hati yang saling menginginkan itu akhirnya tak dapat membendung keegoisan logika sang pangeran, akhirnya sang pangeran menyerah dan mengikuti keinginan hatinya dan kini mereka bahagia, hati itu telah bersatu… putri dan pangeran hidup bagahgia selamanya, karena hati mereka memang pasangan yang benar hingga penggabungan keduanya membentuk hati yang sempurna.
Pejuang cinta tak akan pernah terhina… jika cinta itu memang tulus dan bukan karena nafsu, tetapi karena hati yang memang saling memanggil untuk kebahagian yang sesungguhnya. Dhe… maret ‘10