Secara singkat guru yang baik adalah seorang individu yang peduli dengan siswa dan mendedikasikan waktu dan energinya untuk menjadi manajer yang handal di kelas, materi pelajaran, dan pelajaran di kelas.
Menurut Slavin (2009) yang menjadikan seorang guru disebut sebagai Guru yang Baik tidak hanya sekedar mengetahui tentang materi pelajaran tetapi juga harus mengetahui tentang ketrampilang mengajar. Guru yang Baik tidak hanya tahu materi yang seharusnya diajarkan tetapi juga dapat mengkomunikasikan pengetahuan mereka kepada para siswa. Yang terpenting adalah kemampuan menghubungkan konsep-konsep abstrak dengan pengalaman yang sudah dimiliki oleh para siswa.
Wolfgramm (Henson & Eller, 1999) mengatakan bahwa guru akan terus menghadapi tantangan dalam memotivasi siswa, mempertahankan disiplin, serta bekerja sama dengan orangtua, sesama guru, dan administrator. Hal-hal di atas sangatlah penting untuk dilakukan oleh guru dengan melibatkan atribut dan harapan yang unik terhadap para siswanya.
Selain itu, menurut Salvin (2009) terdapat juga kemampuan-kemampuan guru yang perlu diterapkan di seluruh level pendidikan, baik di dalam maupun di luar kelas, seperti memotivasi siswa, mengatur kelas, mengukur pengalaman terdahulu siswa, mengkomunikasikan ide-ide dengan efektif, memahami karakter-karakter peserta didik, mengukur hasil pembelajaran, dan meninjau kembali informasi yang diperoleh.
Burden & Byrd serta Kennedy (Slavin, 2009) menambahi bahwa Guru yang Baik perlu memiliki kemampuan untuk menampilkan tugas-tugas yang mempengaruhi instruksi yang efektif. Merujuk pada hasil penelitian Cornelius-White serta Eisner (Slavin, 2009) kehangatan, antusiasme, dan perhatian sangatlah penting. Sementara penelitian Wiggins & McTighe (Slavin, 2009) menunjukkan bahwa Guru yang baik perlu memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran dan cara belajar siswa. Meski demikian, menurut Shulman (Slavin, 2009) keberhasilan dari ketuntasan materi yang diajarkanlah yang menjadikan suatu pembelajaran menjadi efektif instruksional.
Di dalam proses mengajar, seorang guru perlu melakukan perencanaan dan persiapan, serta pengambilan keputusan setiap jamnya. Dengan demikian sebuah atribut yang melekat pada guru yang menonjol adalah: intentionality, yaitu melakukan sesuatu dengan alasan, atau bertujuan. Intentional teacher adalah guru yang secara terus menerus memikirkan hasil yang mereka inginkan dari siswanya dan bagaimana setiap keputusan yang mereka buat akan mengarahkan siswa menuju hasil yang diharapkan. Seringkali siswa belajar dalam keadaan yang tidak direncanakan. Namun untuk menantang para siswa, untuk memicu usaha terbaik yang dimiliki, untuk membantu siswa melakukan loncatan yang konseptual, serta untuk mengorganisasi serta mempertahankan pengetahuan baru, guru perlu untuk memiliki alasan (purposeful), penuh pemikiran (thoughtful), dan fleksibel, tanpa kehilangan arah dalam membimbing setiap siswanya.
Duane Obermier (Henson & Eller, 1999), seorang guru teladan dari Nebraska, berbagi pengalamannya mengenai pendapatnya tentang seorang guru yang “baik” adalah guru yang melakukan persiapan yang matang, selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan mengajar, menetapkan standar yang tinggi, fleksibel, jujur, fokus terhadap siswa dan kebutuhannya, bersikap sopan terhadap siswa, menerapkan peraturan secara umum, namun tetap membiarkan konsekuensi natural terjadi.
Telah banyak penemuan yang mengungkapkan bahwa salah satu prediktor yang kuat dari pengaruh guru terhadap siswa adalah keyakinan bahwa si guru melakukan perubahan. Menurut Henson serta Tschannen-Moran & Woolfolk Hoy (Slavin, 2009) keyakinan ini disebut sebagai teacher efficacy merupakan inti dari guru yang intentional atau bertujuan.
Shirley Rau (Henson & Eller, 1999) mengungkapkan bahwa keberhasilan sebagai seorang guru, konselor, atau pakar pendidikan lainnya tergantung dari kemampuan untuk memahami keadaan dan menerapkan inovasi serta ketrampilan untuk membuat kebutusan yang memecahkan atau mengurangi efek dari masalah yang ada.
Charles Sposato (Henson & Eller, 1999) seorang guru teladan dari Massachusetts, mengatakan bahwa dalam perjalanan kariernya sebagai seorang guru seringkali menanyakan kepada siswa mengenai kualitas seperti apakah yang diharapkan siswa dari guru mereka. Jawaban yang paling sering diberikan selalu hampir sama, yaitu penguasaan materi, keadilan, dan rasa gembira. Saat diminta untuk memberikan satu jawaban saja, respon yang diberikan umumnya adalah rasa humor (sense of humor).
Cukup sulit untuk menentukan atribut apa yang dimiliki oleh guru untuk dekat dengan para siswanya. Meski demikian fokus perhatian saat ini lebih kepada organisasi kelas, manajemen waktu, dan interaksi antara guru dengan murid. Aspek-aspek tersebut lebih mudah untuk dikuantifikasi dan diukur daripada aspek-aspek yang sifatnya sangat individual seperti kehangatan dan kepedulian.

bacaan:
Henson, K.T. & Eller, B.E. 1999. Educational Psychology for Effective Teaching. Belmont: Wadsworth Publishing Company.
Slavin, R.E. 2009. Educational Psychology: Theory and Practices. 9th edition. New Jersey: Pearson.