Menurut Slavin (1991), mengajar adalah aktivitas interpersonal dan interaktif yang menggunakan komunikasi verbal. Tujuan mengajar adalah membantu siswa belajar atau mengubah perilaku. Mengajar juga merupakan bentuk hubungan antara guru dan siswa. Prosesnya dilakukan dengan sengaja dan bertujuan.
Dalam proses pembelajaran, tiga hal yang harus diperhatikan adalah siapa yang diajar/anak didik, apa materi yang diajarkan dan targetnya, serta bagaimana mengajarkannya. Dalam proses tersebut, guru berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dan perubahan dalam kehidupan siswa. Maka guru diharapkan tidak hanya menguasai bahan ajaran, namun juga cara menyampaikan bahan ajaran dan perlakuan terhadap siswa.
Dalam proses transfer bahan ajar (ilmu) tersebut, guru berperan sebagai pemimpin, penyampai bahan ajar yang efektif, pendiagnosa, a tactful diplomat (pandai membawa diri dan bijaksana), a firm but fair diciplinarian (memiliki kedisiplinan yang tegas dan adil), praktisi dan peneliti, pembuat keputusan, konselor, sekaligus manajer. Guru yang baik tidak sekadar menguasai bahan ajar, namun juga mampu menyampaikannya dengan jelas dan kreatif sehingga dapat memotivasi siswanya. Guru yang baik juga selalu mengevaluasi proses pembelajaran yang dilakukannya (Slavin, 1991).
Sebagai pembuat keputusan, guru harus secara kreatif membuat keputusan saat terjadi permalasahan yang menyangkut siswanya sehingga suasana belajar kembali nyaman. Sebagai konselor, guru memahami karakteristik masing-masing siswanya (emosi, psikis, dan sosial). Dengan demikian saat terjadi masalah pada siswa, guru dapat melihat masalah dengan lebih jelas, mengidentifikasinya, dan mencari kemungkinan pemecahannya. Sebagai manajer, guru harus mampu membuat tujuan dan struktur kelas yang baik untuk kelancaran proses pembelajaran. Guru juga mengatur lingkungan belajar, memberi tugas, dan mengatur lingkungan sosial siswa di sekolah. Sebagai peneliti dan praktisi, guru meneliti permasalahan yang ada di kelasnya. Hasil penelitian tersebut disampaikan kepada siswa dan diaplikasikan di kelas dengan mempertimbangkan dinamika siswa di kelas.
Menurut Henson (1999), mengajar dapat dilihat dari perspektif aksi (teaching as action), perspektif seni dan perspektif sains (teaching as art and science). Dari perspektif aksi, mengajar adalah kegiatan mengorganisir kelas, meliputi pelaksanaan kurikulum dan tujuan pendidikan, melibatkan siswa dalam merencanakan dan mengorganisir kelas. Mengajar adalah mengelola kelas dengan aturan yang jelas. Dari perspektif seni, mengajar adalah menyampaikan materi ajar yang disesuaikan dengan keunikan siswa, disertai humor, intonasi suara, dan kontak individual. Dari perspektif sains, mengajar mensyaratkan guru menguasai teori perilaku manusia, perkembangan anak (karakteristik siswa), dan proses belajar.
Guru yang efektif tahu apa yang akan diajarkan dan menguasai cara yang efektif untuk menyampaikan materi ajar kepada siswa. Jadi, selain memahami secara mendalam dan spesifik subjek/bahan ajar (biologi, fisika, matematika, bahasa, dan sebagainya), guru juga mengetahui secara spesifik cara-cara untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran di kelas. Selain itu, guru juga mempertimbangkan keunikan siswa, perbedaan umur, latar belakang, dan materi ajar yang sesuai. Guru memerankan peran utama di dalam kelas, tapi tetap melibatkan siswa dalam perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran. Guru menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran dan mengomunikasikannya kepada siswa. Sebagai besar kegiatan pembelajaran melibatkan seluruh siswa, baru kemudian dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil atau kegiatan individual. Guru menjaga tahap-tahap pembelajaran tetap di alurnya dan mewajibkan partisipasi aktif siswa. Selain itu, guru yang efektif juga memberi perhatian dan mengembangkan sikap kritis dalam menanggapi jawaban para siswa sehingga mereka mendapatkan pengetahuan yang lebih utuh. Saat memberi tugas kepada para siswa, guru menekankan perlunya siswa bertanggung jawab terhadap hasil kerja mereka. Sebelumnya, di awal tahun ajaran, guru telah menetapkan aturan-aturan berkaitan dengan proses akademik dan perilaku sosial siswa.

Henson, K.T. & Eller, B.F. (1999). Educational Psychology for Effective Teaching. Boston: Wadsworth Publishing Company.
Slavin, R.E. (1991). Educational Psychology: Theory into Practice. New Jersey: Prentice Hall.