Untuk mengulas berfikir logic pada anak pra sekolah, maka ulasan ini akan memulai dengan bertolak pada definisi berfikir logic terlebih dahulu, yaitu menurut cabang filsafat, Logika berperan mengatur/membimbing akal budi manusia agar menjalankan proses berpikir/refleksi secara tepat, lurus, benar, logis dalam mencapai kebenaran. Dimana salah satu manfaat dari berfikir logis ialah untuk membantu orang berpikir lurus, tepat, teratur, rasional, kritis, tertib, metodis, koheren.
Logika membicarakan kegiatan pemikiran secara lengkap beserta prosesnya menuju arah kebenaran, membicarakan susunan konsep dan segala sesuatu yang menyangkut berbagai seluk-beluk kegiatan pemikiran.
Dalam buku the creative curriculum for preschool di tuliskan bahwa tugas perkembangan kogntif pada anak di dimensi berfikir logic adalah mengumpulkan dan membuat informasi yang masuk akal dengan menggabungkan, membedakan, memilah, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, dan mengenal pola. Anak menggunakan pemikiran logic untuk mengorganisasi dunia mereka secara konseptual dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana itu bekerja.
Dalam psikologi, terdapat beberapa ahli yang mengulas tentang perkembangan berfikir logis pada manusia dan disini hanya akan difokuskan perkembangan berfikir logis pada anak usia pra sekolah.

1. Piaget

Menurut piaget (dalam santrock, 2007), anak yang berada pada periode sensorimotor memperoleh pengetahuan tentang dunia dari tindakan-tindakan fisik yang mereka lakukan. Seorang bayi berkembangan dari tindakan reflektif, instingtif pada saat kelahiran hingga akhir periode ini. Sedangkan pada tahap pra operasional, yaitu dengan rentang usia 2-7 tahun sudah mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya. Walaupun terdapat beberapa hambatan dalam pemikiran pada anak di tahap ini, seperti egosentrisme dan sentralisasi, namun kemampuan objek permanen dan konsep sebab akibat telah berkembang di akhir periode ini.
Jika pada tahap sensorimotor anak hanya memiliki pola perilaku reflek, pada tahap pra operasional anak telah mulai membentuk konsep yang stabil, memunculkan pemikiran-pemikiran mental, menumbuhkan egosentrisme, serta terkonstruksi keyakinan-keyakinan magis.
Dalam perkembangannya, pada tahap ini terbagi menjadi dua sub tahap perkembangan yaitu, fungsi simbolik dan pemikiran intuitif. Pada sub tahap simbolik yang berada pada usia 2-4 tahun anak mulai memiliki kemampuan untuk menggambarkan secara mental sebuah objek yang tidak ada. Namun demikian pemikiran anak di tahap ini masih memiliki batasan-batasan seperti egosentrisme dan animisme.
Selanjutnya pada sub tahap ke dua ialah intuitif yang terjadi sekitar usia 4-7 tahun dimana anak selalu ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan yang ditandai dengan intensitas bertanya anak yang semakin sering. Kelemahan di tahap ini ialah anak sulit memahami kejadian yang disadarinya terjadi, tetapi tidak dilihatnya. Sebagai tanda periode intuitif anak mengetahui sesuatu dan memperoleh pengetahuan tanpa menggunakan pemikiran rasional mereka. Sebagai kelemahan kemampuan berfikir mereka di periode ini ialah sentralisasi dimana anak hanya memusatkan perhatian pada satu karakteristik dan mengabaikan karakteristik lainnya, yang dicontohkan dengan kurangnya kemampuan konservasi (papalia, 2008).
Anak pada usia ini tidak hanya menunjukkan kegagalan konservasi pada zat cair, namun juga pada angka, bahan-bahan, panjang, volume, dan area.
Pada tahap perkembangan piaget, kemampuan berfikir logic anak sangat erat kaitannya dengan koordinasi dan adaptasi yang di dalamnya terdapat skema, asimilasi, dan akomodasi, selain itu kemampuan dalam operasi, konservasi, klasifikasi, dan pemikiran hipotesis deduktif merupakan ukuran perkembangan berfikir logis pada anak. Dan tak luput pula pada proses equilibrasi sebagai proses yang dijalani anak dalam rangka mengembangkan nalarnya ke tingkat yang lebih tinggi.

2. Kritik dan Neo piaget

Menurut Gelman, prestasi anak pada pra sekolah dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan yang bersifat perhatian pada satu dimensi, seperti angka dan prestasi pada satu dimensi ini juga akan meningkatkan prestasi dimensi lain seperti volume. Gelman (dalam Slavin, 2008) meyakini bahwa konservasi muncul lebih awal dari yang dipikirkan oleh piaget asal diberikan dengan cara dan bahasa yang sederhana, dan ia menganggap perhatian merupakan suatu hal yang penting dalam menjelaskan konservasi.
Penelitian kemudian, yang salah satunya dilakukan oleh siegrler menemukan bahwa permenensi objek pada anak muncul lebih awal dari yang dikemukakan oleh piaget. Dimana permanensi objek ini penting untuk anak mengembangkan keberadaannya dan dunianya (slavin, 2008).
Selain itu penemuan terbaru juga mengatakan bahwa pada keadaan tertentu anak tidak memunculkan sifat egosentris, yaitu ketika ia menyadari orang lain tidak melihat apa yang ingin dilihatnya, maka ia akan mengamati apakah orang tersebut matanya tertutup atau sedang melihat kea rah lain, selain itu, konsep konservasi juga didapati terjadi lebih awal yaitu ditemui pada anak usia 3 tahun yang menurut piaget tidak akan terjadi pada anak sebelum berusia 7 tahun.
Penemuan baru mengungkapkan bahwa anak dengan tahap tertentu akan dapat dilatih untuk mempelajari kemampuan di tahap yang lebih tinggi sehingga perkembangannya dapat terjadi lebih cepat dan menurut piaget itu tidak mungkin dapat dilakukan kecuali anak telah mencapai titik transisi kedewasaan rasional pada tahapan-tahapan tersebut.
Sedangkan para pakar neo piagetian mengemukakan penggambaran yang lebih akurat mengenai pemikiran anak memerlukan perhatian pada strategi-strategi anak, kecepatan anak memproses informasi, keterlibatan tugas khusus, dan pembagian permasalahan kedalam langkah-langkah yang lebih kecil dan tepat.

3. Vygotsky

Lev vigotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka, namun fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi social. Anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sitematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong dan ahli terkait dengan ZPD nya, oleh sebab itu orang lain dan bahasa memegang peranan penting (salavin, 2008).
Menurut vigotsky (dalam santrock, 2007), bahwa anak kaya konsep namun tidak sistematis, acak, dan spontan, oleh sebab itu anak belajar dari pakar untuk menjadi lebih sistematis, logis, dan rasional yang disebut anak dalam ZPD. Dan untuk proses ini anak yang dalam ZPD memerlukan dialog untuk menghubungkannya dengan cara scafoflding.
Vygotsky yakin, anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahsa untuk kemandirian kemudian diberi nama private speech.
Menurut vigotsky, bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Ia menekankan bahwa semua fungsi mental memiliki sumber eksternal social dan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain, sebelum mereka dapat memfokuskan kedalam pikiran-pikiran mereka sendiri.
Selanjutnya anak usia 3 – 7 tahun akan mengembangkan kemampuan bicara eksternal menjadi internal dan meliputi berbicara pada dirinya sendiri hingga akhirnya mampu bertindak tanpa aktivitas verbal. Disini anak telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris mereka dalam bentuk inner speech yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka (santrock, 2007).
Ketika anak bicara pada diri sendiri, mereka menggunakan bahasa untuk menata dan membimbing perilaku mereka.
Bagi vygotsky, point akhir kemahiran anak dapat berbeda tergantung keahlian yang dianggap paling penting dalam budaya dan menurutnya anak menyusun pengetahuan melalui interaksi social. Disini peran bahasa sangat penting dalam menajamkan pemikiran.

4. Kritisi Vigotsky

Disini Barbara rogoff (dalam Santrock, 2007) mendukung teori vygotsky dimana ia berpendapat bahwa anak menjalani suatu pelatihan berfikir melalui partisipasi terarah dalam aktivitas social dan budaya. Partisipasi terarah dapat terjadi ketika orang dewasa dan anak berbagi aktivitas. Orang tua dipandang sebagai pengambil keputusan bagi anak dalam memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.
Anak juga belajar melalui observasi, dimana anak dapat mengadopsi nilai-nilai, keahlian, dan tata karma dengan melihat dan mendengarkan teman sebaya dan orang dewasa. Disini pembelajaran tidak hanya terjadi dengan belajar atau duduk di kelas, tetapi juga melalui interaksi dengan orang-orang berpengathuan.

Kesimpulan

Berfikir logic adalah mengumpulkan dan membuat informasi yang masuk akal dengan menggabungkan, membedakan, memilah, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, dan mengenal pola. Anak menggunakan pemikiran logic untuk mengorganisasi dunia mereka secara konseptual dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana itu bekerja.
Anak-anak pada usia pra sekolah menurut piaget masih belum memiliki pemikiran logic yang sempurna karena mereka terbatas dengan masalah seperti egosentrisme, sentralisasi, animisme, dan intuitif yang membuat mereka belum mampu melakukan konservasi secara penuh baik pada zat cair, maupun pada angka, bahan-bahan, panjang, volume, dan area. Namun di usia ini mereka mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya.
Namun, penelitian yang lebih baru mengatakan latihan dan budaya memiliki peran dalam perkembangan berfikir anak, dan metode yang digunakan untuk mengamati tingkah lau anak juga mempengaruhi hasil pengamatan seperti pemberian instruksi dengan cara dan kata yang sederhana membuat anak mampu melakukan apa yang menurut piaget belum mampu dilakukan anak, seperti konservasi, dan kepermanenan objek yang berfungsi untuk membatu anak memahami kejadian tetap terjadi walau mereka tidak melihatnya.
Sedangkan menurut vigotsky, bahwa bahasa berperan sangat penting dalam perkembangan berfikir anak, dimana Anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sitematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong dan ahli terkait dengan ZPD nya, oleh sebab itu kemampuan berbahasa sangat diperlukan.
Vygotsky yakin, anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahasa untuk kemandirian kemudian diberi nama private speech. Selanjutnya anak usia 3 – 7 tahun akan mengembangkan kemampuan bicara eksternal menjadi internal dan meliputi berbicara pada dirinya sendiri hingga akhirnya mampu bertindak tanpa aktivitas verbal. Disini anak telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris mereka dalam bentuk inner speech yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka.
Selain itu karakteristik berfikir anak pada usia 3 tahun, mereka memiliki kemampuan mengklasifikasi dan memahami dunia namun dengan tahap yang apaling sederhanya, bahkan mereka hanya mampu mengklasifikasikan berdasarkan satu karakteristik dalam satu waktu.
Pada usia 4 tahun, rasa ingin tahu anak untuk mulai berfikir sebab akibat membuat mereka jadi sering bertanya, bahkan mereka juga menggunakan imajinasi mereka untuk memahami sesuatu, walau terkadang imajinasi tersebut dapat memunculkan takut. Dan pada fase ini mereka masih belum terlalu dapat membedakan antara fantasi dan fakta.
Anak pada usia 5 tahun mulai mempelajari konsep-konsep baru melalui eksperimen dan observasi. Mereka mulai mampu memecahkan masalah dan melakukan prediksi melalui observasi segala sesuatu yang ada disekeliling mereka, dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya. Mereka mampu berfikir dengan cara yang lebih kompleks, seperti menghubungkan informasi baru dengan informasi yang telah mereka ketahui. Mereka juga telah mampu melakukan pengkategorisasian berdasatkan dua karakteristik sekaligus, seperti bentuk dan warna.

Daftar bacaan

Papalia, E,. Diane,. Dkk. 2008. Human Development (Psikologi perkembangan). Kencana: Jakarta
Slavin,. E,. Robert. 2008. Psikologi pedidikan teori dan praktek jilid I. Indeks: Jakarta
Santrock,. W,. John. 2007. Perkembangan Anak. Erlangga: Jakarta